13.9.11

Sekaleng Kopi Biru

13 September 2010. Bulan menjadi satu-satunya ornamen yang tertempel di langit ketika malam telah tiba. Tanpa bintang, hanya suara kendaraan yang hilir mudik. Aku melangkah ke sebuah mini market kecil, mengambil sekaleng kenangan yang telah dingin. Sekaleng kopi rasa Moccacino ukuran 200ml berwarna biru, yang aku sendiri tak tahu telah berapa lama tak disentuh.

Kakiku terhenti di depan kasir, sambil merogoh dompet di kantong untuk membayar sekaleng kopi tadi. Dan aku pun melihat sekotak Marlboro hijau tersusun rapih di belakang meja kasir. Hai kamu yang disana, apakah rokok yang kamu biasa hisap masih rokok yang sama atau sudah berubah? Atau mungkin kamu sudah tidak merokok lagi? Nyaris 2 bulan kita tidak bertemu, aku tak tahu bagaimana kabarmu. Ponsel hanya digunakan untuk kabar bohong belaka, aku tahu itu.

Seteguk sudah kopi itu kuminum. Pahit kopi dan rasa cokelat terasa di pangkal lidah. Rasa itu masih sama, hanya saja kali ini kuganti dengan cokelat, bukan susu seperti yang waktu itu kau traktir. Sambil berjalan  kuteguk lagi kopi tersebut. Nyaris 3 bulan dari waktu kita minum kopi bersama. Kopi yang biasa kau minum untuk tetap terbangun. Kopi yang biasa kau minum untuk tetap melihat masa depan. Dan sekarang giliran aku yang meminum kopi tersebut.

Hai kamu yang biasa mengajariku cara untuk hidup, kamu tak perlu repot-repot lagi datang dengan wujud seorang guru. Untuk sekarang, esok, dan seterusnya. Kamu tak perlu khawatir, sekaleng kopi cukup untuk menemaniku pada malam ini. Untuk esok, dan juga seterusnya.

1.9.11

Jonggol itu KERAS!


Maaf fans-fans tercintaku setanah air yang telah menunggu lama akan postingan selanjutnya (cie ileh), karena kesibukan saya akan banyak hal pas liburan. Saya cuma bisa bawa oleh-oleh sedikit dari Jonggol, yaitu cerita dan biji pinus.


Yaa fotonya aja ya... Saya cuma bawain sama mereka yang mesen doang. Kemping selama 4 hari 3 malam di Jonggol itu KERAS, man! Mereka diharuskan untuk memenangkan games dari para panitia untuk mendapatkan Bosconian Dollar yang digunakan untuk membeli makanan. Bahkan di hari pertama ada yang beli nasi pake tempe doang karena takut besok duitnya gak cukup! Na'as bener (padahal saya panitia loh). Banyak perubahan yang kami alami sendiri setelah kemping ini berlalu. Dari perubahan fisik yaitu makin gembur dan makin kurus, makin banyak teman, dan tentunya makin hitam. Kerennya, makin tan.

Disini tempatnya cukup bagus, banyak pohon pinus dan kalau udah gelap suara jangkringnya enak didenger. Dan ada bebek-bebekkan juga yang akhirnya memicu panitia untuk berlomba di oratori baru, yaitu 'Mancing Bebek'. 





Dari acaranya sendiri, yang paling berkesan sama saya itu misa di atas gunung, duduknya dibawah pohon. Berasa gimanaaa gituu. Ada angin semriwing lewat di kepala, sembari diselimuti bayangan daun-daun pohon.


Dan satu lagi, ketika hujan badai pas hari ketiga, saya kencing di botol... Untuk pertama kalinya saya kencing di botol, dan rasanya enak banget kencingnya anget-anget kuku di botol. Coba deh bayangin, pas lagi badai hujan, di dalem tenda, sambil mengangin benda anget yang keluar dari tubuh kita sendiri. Wiii rasanya susah dideskripsikan nyahahaha. Masih banyak cerita yang mau saya share, tapi kayaknya gak mungkin semua :) Kita lanjutkan nanti saja ya!

8.8.11

Ckckck

Entah kenapa ketika gue melihat orang mengetik "ckckck", gue merasa kesel sendiri. Seakan meremehkan dan menganggap dia yang paling benar.

4.8.11

Kening


Setelah sempat ngiler melihat review Kening di tumblr dia, saya jadi tertarik buat baca buku ini. Buku seharga Rp 39.000,- ini (kalau di online lebih murah) bercerita tentang masa-masa muda Rakhmawati Fitri atau yang akrab dipanggil Fitrop. Loh, sekarang juga masih muda sih, maksud saya ketika dia masih mudaan dikit. Dari masa percintaan, masa kelam, sampai ia akhirnya menjadi FiTrop yang kita kenal karena kelebaiannya.

Chapter paling favorit saya adalah "Love Letter Untukmu, dan Kamu". Tadinya saya pikir chapter tersebut bercerita tentang love letter yang biasa, alias buat pacar. Tetapi ternyata ada love letter yang lebih menyentuh ketimbang dikasih ke pacar, yaitu love letter untuk papa dan mama di rumah. Kalimat yang selalu terngiang-ngiang di pikiran saya adalah ketika FiTrop mendeskripsikan rindu dengan sebuah kalimat yang sangat sederhana.

"Caramu memahami setiap kali kubilang mie instan buatanmu paling enak sedunia, means aku rindu mie instan buatanmu."

It's a very simple phrase, filled with emotion. Sama halnya ketika saya berpikir "tanganmu adalah tangan terbesar dan terkasar di dunia, pelukanmu adalah pelukan terhangat yang pernah saya rasakan, dan diri lo adalah cewek tertomboy di muka bumi", somehow I miss these 3 people.

Kalau di chapter pertama? Hmm... Bagus tapi juga miris, saya turut berduka juga buat FiTrop yang telah menjadi korban kekerasan media, terutama acara infotainment dan para ibu-ibu bergosip. Tapi dari sini juga saya belajar untuk passing through my own story, something that we must sacrifice for our own goods.

Yang saya sayangin dari buku ini sih kurang memperhatikan tanda baca, kalimat yang terlalu panjanggakpaketitikkomadankelupaanspasi membuat beberapa kalimat harus dibaca ulang. Saya gak mau nulis banyak buat review  kali ini, biar kalian beli ini buku! Kalo gak punya duit ya... bisa minjem kok. Banyak jalan menuju Roma, asal jangan beli yang bajakkan ya.

Rate: 3.8/5

Kening: Love Letter Untukmu, dan Kamu

 Caramu memahami setiap kali kubilang mie instan buatanmu paling enak sedunia, means aku rindu mie instan buatanmu. - Rakhmawati Fitri

2.8.11

Alternatif Lain

Sebuah perjalanan macet, percakapan antara saya dengan bos di dalam mobil Avanza.

"Ming, tau gak jalan ke Canisius?"
"Wah gak wahu, Bre. Tahunya jalan ke SanUr (Santa Ursula)."

Diam sejenak.

"Lu gak memecahkan masalah, Ming."

24.7.11

Ebony Scrooge


Ebony Scrooge adalah cerita tentang seorang wanita yang kikir, jahat, dan egois yang tidak pernah percaya kepada hari Natal dikarenakan kesialan yang selalu ia dapat ketika hari Natal. Sepeser uang atau setitik belas kasihan pun tak pernah ia beri kepada orang lain. Hingga pada suatu malam Natal, teman lamanya yang telah meninggal, Marla, datang kepada Ebony untuk memperingatkan hukuman yang lebih berat jika ia tidak mau merubah sikapnya. Cerita ini adalah adaptasi dari novella Christmas Carol oleh Charles Dickens.

Itulah teater yang dimainkan oleh kelas saya untuk final project Introduction to Performing Arts Communication. Latihannya? Pake keringet en darah. Pake duit en hati. Pokoknya semua dikerahkan untuk mata kuliah yang satu ini. Puji Tuhan, berakhir dengan sukses walaupun ada kesalahan kecil!

Berikut sedikit foto yang diambil oleh Angel.

Roberta Cratchet and Ebony Scrooge

Marla

The Cratchet Family, Ghost of Christmas Present and Ebony

The Cratchet Family

After seeing the future


A Thank-You Dance


and photos from Lesilolo


Ebony's Mother, Young Ebony, Ghost of Christmas Past and Ebony Scrooge


Ebony's Aunt and Teen Ebony


The Accident







Semoga penampilan 14-8A berbuah hasil yang baik ;) Thanks udah menjadi bagian dari 2 semester pertama saya. Buat yang udah dateng latihan, ngasih kripik pedas Mrs. Popon sama keritik pedasnya juga, sama yang yang udah jadi es batu buat kepala dan hati. Juga gak lupa berterima kasih sama Tuhan yang udah ngasih kita kekuatan buat tampil, dan Sir Raffy juga asdosnya, Miss Vicky yang udah bentak-bentak dan ngasih masukkan.Tengss berat pokoke!

23.7.11

Tiga Agama

Pernah baca postingan saya yang tentang agama? Kalau belum baca dulu di sini.

Hari terakhir saya masuk kampus ditutup dengan ujian Introduction to Mass Communication, yang tadinya satu hari sama Introduction to Performing Arts yang *untungnya* berakhir dengan sukses. Padahal saya udah deg-degan setengah mati pas manggung. Kalau hari terakhir teman saya pulang seusai ujian, saya malah terpuruk di kampus B untuk bantu ngurus teater kelas tetangga.

Mumpung berada di kampus B, saya sekalian aja mau benerin status agama yang saya isi waktu itu. Karena di semester 3 nanti saya bakalan dapet mata pelajaran agama, ya sesuai agama yang saya isi. Lalu setelah 5 menit nunggu, saya minta tolong sama orang akademik untuk ubah agama saya.

"Pak, permisi mau tanya. Kan semester 3 nanti saya dapat pelajaran agama. Itu pilih sendiri atau sesuai data/KTP yang saya kasih ya, Pak?"
"Oh itu sesuai data yang diisi dek. Emangnya kenapa?"
"Saya mau ganti data agamanya Pak, soalnya berubah. Terus yang di KTP juga salah, Pak"
"Ohhh emang agamanya sekarang apa?"
"Katholik."
"Dulu?"
"Buddha."
"Di KTP?"
"Islam."

Alhasil saya diketawain abis-abisan sama orang akademik kampus B. Penutupan semester yang SANGAT BERKESAN.

14.7.11

Keajaiban Kampus - Gak Kuat

Yang namanya institusi pendidikan itu pasti menyimpan sejuta keajaiban. Dari keajaiban yang patut ditinggikan, seperti dosen dengan ilmu yang melebihi kapasitas dari biasanya sampai murid yang ber IP 4. Tapi banyak juga keajaiban yang benar-benar "ajaib". Dari dosen yang tampangnya 30 tahun tapi KTPnya 38 tahun, dosen yang sudah berumur dengan baju motif macan totol sampai yang celananya ketat dan burungnya nyaris terbang. Yaah walau muridnya juga banyak yang "ajaib" sih, kayak saya ini. *malu-malu kucing*

Tapi yang kali ini bikin saya ngakak guling-guling cuma satu... Ada yang mirip personil 7 Icon.


Saya tahu 7 Icon udah nongol lama di TV. Personil yang berdandan ala centil sambil joget "Gak gakk kuaattt". Tapi ketika saya melihat muka ibu dosen yang satu ini. Kok mirip 7 Icon ya.

Kejadian paling parah ketika saya ingin turun dengan lift dari lantai 6. Kebetulan sudah sore, sekitar jam 5. Si Ibu ini tiba-tiba ikutan masuk lift. Tinggallah saya berempat, sama dua teman saya. 

Ia sih si Ibu memang mirip... Tapi ketika saya satu lift dan bertatapan sama dia...

MIRIP BANGET!

Akhirnya, saya ketawa-kewata sendiri di dalem lift. Si Ibu dan teman saya heran saya ketawa. Saya gak bisa ngebayangin kalau dia benar-benar joget ala 7 Icon di dalam lift. Udah ah gak kuat nulis lagi, nanti kualat.





Gak-gak-gak kuatttt.


*Gambaar si Ibu Dosen tidak akan saya pajang, karena ini menyangkut hidup dan mati saya -glekk-*


12.7.11

Jika "x" = jumlah anak; Maka:

Jika orang tua mempunyai "x" anak, maka maksudnya adalah:

x = 1: Tujuan
x = 2: Ideal (terencana)
x = 3: Mencari yang terbaik
x = 4: Kebablasan
x = 5: Kehendak Tuhan
x = 6: Nafsuan






Sebuah celotehan di mobil Avanza dengan rekan kerja, saat perjalanan menuju Karawaci.

6.7.11

Please READ

Kebiasaan orang Indonesia pada dasarnya adalah malas membaca. Entah itu baca koran, surat, maupun pesan yang dikirim. Dan ketika dia salah informasi, yang disalahkan siapa? Sang pengirim. Padahal mereka sendiri yang tidak membaca informasi dengan baik.

Pagi ini saya bener-bener dibikin empet. Iya, empet banget. Lagi agak sedikit teler, buka laptop dan chatting. Tiba-tiba ada pesan masuk ke ponsel saya, menanyakan kapan jadwal latihan diadakan.

Padahal saya sendiri sudah meng-broadcast message kepada semua kontak yang bersangkutan, tapi LAGI-LAGI tiga sampai empat orang menanyakan hal sama beruulaaaaaaang kali. Gila, gimana gak empet sendiri.


*Update: Sekarang malah ada satu orang yang mengalibikan dia tidak membaca pesan karena TADINYA mau bolos latihan. Groarrr

4.7.11

Lack of Information

Informasi itu memang hal yang terpenting dalam hidup. Penting banget. Kalau gak ada informasi, kita gak bakal tahu apa yang akan terjadi dan seharusnya terjadi. Contohnya saya dan teman-teman sekelas ini. Kita gak tahu kalau hari ini ternyata BELUM LIBUR! 

Minggu malam saya dikirim pesan terus sama teman sekelas. Win besok beneran libur kan? Gak ada kelas kan?
Basi. Dengan PDnya saya berpikir begitu. Akhirnya saya sok-sokan bergadang sampai setengah 3 pagi, sekali-kali bergadang gapapa lah. Besoknya (ternyata enggak) libur gini.

Bangun agak siang dikit, jam tujuh pagi... *Itu mana siang woi!*

Masih sempat-sempatnya nganterin nyokap ke pasar, beli tar susu sama risol, nasi kuning pake sambel kacang. Duduk sambil ngengkang di depan TV dan makan nasi pake sambel kacang. Ngulet di ranjang lagi, mandi, dan bersiap-siap main warnet satu atau dua jam. Tiba-tiba saya diBBMin sama asdos mata kuliah PAC.

"Win, kok sekelas belom dateng?"
"Pada kemana semua?"
PING!!!

Nah lohhhh jeng jeng jeng. Ternyata hari Senin masih ada satu kelas lagi. Dan. Kelas. Saya. Tidak. Tahu. Akan. Hal. Itu. 

"Hah, bukannya udah libur ya miss?"
"Kan ini rest week."

"Enggak kok, semuanya masih ada satu kelas. Glee aja masuk."

Amsyong lah, langsung saya BBMin semua Londoners, dari seangkatan sampe senior, dan ternyata bener. MASIH ADA KELAS! Kelas saya gak diinfoin sama sekali kalau hari ini ada kelas! :'(

Untungnya Miss Vicky yang baik hati ini memberikan kelas pengganti di hari lain. Kalau enggak, 2 orang bakal ngulang mata kuliah ini, dan berarti teater saya bakal kacau balau.

Information is crucial, isn't it?

26.6.11

Older self

Just blogwalking to my own blog. I found my stupid self sitting there. Writing the whole LOL story, with his own style.

I really miss myself in younger age.

The way I live.
The way I laugh.
The way I love someone.

Face to Screen

Zaman sudah semakin maju, begitu juga dengan teknologi yang akhirnya mempengaruhi cara manusia untuk berinteraksi. Dari yang dulu berkomunikasi harus bertatap muka, sekarang sudah bisa dengan menggunakan telepon genggam yang bahkan sudah mempunyai fitur-fitur up to date lainnya, macam BBM, twitter, atau aplikasi lainnya.

Beberapa orang secara tidak langsung menganggap komunikasi face to face adalah hal yang basi. Secara tidak sadar mereka telah mengadaptasi face to screen untuk berkomunikasi. Dalam kata lain, mereka asik berkomunikasi dengan gadget mereka. Karena apa? Kemajuan teknologi? Saya sendiri tidak bisa menyalahkan kemajuan teknologi karena kita sendiri bukanlah makhluk yang berdiri di satu tempat yang sama.

Meskipun teknologi dapat mendekatkan yang jauh, bukan berarti kita harus menjauhkan yang dekat. Saya berkumpul bersama teman saya, kita duduk, dan mengobrol. Bukan asik berhubungan dengan yang jauh disana, yang ekspresi muka dan suaranya saja hanya tertera dalam layar kaca unyil.

Salah satu iklan Thailand berikut ini dapat merangkum postingan saya dan cukup menyindir. Thanks to Tanto who give me the link :P



23.6.11

Bapak Odesius

Seperti postingan saya yang sebelumnya, nama itu memang penting. Tetapi panggilan depan itu gak kalah pentingnya juga. Seperti Bapak, Ibu, Enci, Kuku, dan masih banyak lagi.

Semua berawal dari mata pelajaran Introduction to Performing Arts, saya meminta nomor telepon untuk menyewa ruangan aerobik untuk latihan teater ke teman saya, Wieke. Diberilah nama Odesius sebagai contact person ruang aerobik tersebut. Gak pake ba bi bu, saya langsung menelepon si Odesius-odesius itu.

"Halo selamat pagi, dengan Odesius."
"Halo Pak, saya mau sewa ruangan aerobiknya 2 jam ya. Untuk hari Jumat jam 11 pagi."
"Ohh oke Pak, semuanya 100 ribu rupiah ya. Harus di DP dulu tapi."
"Oh ya udah Pak, nanti saya kesana untuk pelunasannya ya. Makasih Pak."

Pembicaraan saya dengan Odesius berakhir sampai disitu. Tetapi tidak kisah Odesius dengan yang lainnya. Karena saya tugas Marketing yang dikerjakan dengan penuh cinta dan pengharapan. Akhirnya tugas untuk membayar DP ini jatuh ke tangan Jocelyn bersama Tuti.

Pagi ini, si Jocelyn ngoceh-ngoceh ke saya. Karena Odesius itu tidaklah lebih dari sekedar... simak dulu deh ceritanya :P

Kisah Jocelyn Mencari Odesius


"Permisi Pak, saya mau cari Bapak Odesius."
"Oh silahkan mbak, ada di atas."
"Oh iya, makasih ya Pak."

Dengan muka kaget, dia melihat papan besar bertuliskan


ODESIUS
SPA AND FITNESS CENTER

Kesimpulan: Kalian harus tahu siapa yang kalian hadapi, atau malu akan mengakhiri.






SEKIAN

21.6.11

Feriningrum

Apalah artinya sebuah nama sudah menjadi sebuah pepatah yang basi. Bukan berarti karena teman kalian berkata "Emang mau lo dikasih nama Hajat sama emak lo?" Tetapi memang karena nama itu mengandung sejuta makna. Salah satunya teman saya, Ruth Feriningrum.

Saya bertemu dia ketika pertama kali masuk kelas di kampus. Di benak saya berpikir nih anak namanya keren banget! Orang tuanya pasti kreatif deh. Yeah, orang tuanya memang kreatif. Terdengar seperti nama yang eksotis.

Ningrum sendiri artinya bening dalam bahasa Jawa (kata si empunya nama loh). Feri? Berikut sejarah yang terkuak dari bibir teman saya sendiri.

"Jadi ceritanya itu dulu emak sama bapak gue ketemunya di kapal Feri! Terus ningrum itu artinya bening dalam bahasa Jawa. Jadi deh Ruth Feriningrum!"

Sekarang saya lebih setuju dengan pepatah "Nama mengandung sejuta makna". Kalau kalian tanya itu pepatah darimana, saya ngarang sendiri.



But I wonder if...
Bapak emaknya ketemuan di bemo, namanya jadi apa ya...?

13.6.11

Mahasiswa Komunikasi

Kalau ditanya saya kuliah apa, saya dengan bangga bakalan jawab "kuliah komunikasi pak/bu. Jurusan Advertising!"

Tapi berhubung saya masih semester dua, yaa belom bisa bilang deh tugas advertising itu ngapain aja, selain menjawab bikin iklan. Kalau ditanya sekarang tugasnya apa, ya... nanti dulu deh saya kasih tahunya!

Beda sama mahasiswa jurusan lainnya. Kalau saya tanya sama anak SI, pasti dia jawabnya bikin diagram atau coding. Kalau anak desain, paling gak jauh dari bikin gambar, atau karya seni yang sangkut paut dengan menggambar. Akuntansi? Ya ngitung duit.

Kalau saya ditanya tugasnya bikin apa, erm... agak malu-malu bangga sih jawabnya. Salah satu tugas saya yang mendatang adalah nontonin kasus Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari. Bahasa singkatnya: Peterporn, Journey to Sexland.


Journey to Sexland


Beneran? Iya beneran tugas saya di kampus kayak gitu. Tapi jangan salah, nonton kasus Peterporn bukanlah suatu hal yang mudah kalau namanya dijadiin tugas. Dimana setiap urai mata Cut Tari dikaitkan dengan yang namanya scapegoating. Dimana setiap perkataan Luna Maya dikaitkan dengan yang namanya mortification. Bahkan saya harus meneliti yang namanya pentad, yang bentuk garisnya nyaris mirip sama aliran sesat.

Kalau dibilang susah? Ya lumayan lah, tergantung tugasnya ngapain juga. Tapi saya harus mengakui kalau saya menikmati banget sama tugas-tugas yang kayak gini. Penelitian tapi gak mutlak yang hasilnya pasti kayak matematika maupun kedokteran. Bahkan ketika kalian minum Starbucks dan teman kalian menghasut kalian untuk tidak minum pun bisa dijadikan teori. Itulah salah satu seni Ilmu Komunikasi.

Jadi, enak gak jadi mahasiswa komunikasi? Ya, saya harus akui enak. Tapi bukan berarti kalian harus enak-enakkan :P

9.6.11

NOTE: Postingan ini terinspirasi dari ngalor ngidul teman saya, yang memicu saya untuk mengembangkan ide ini lebih lanjut. Mudah-mudahan jurusan ini benar-benar ada. Amin!

JURUSAN: Cinta
Gelar: S.Pc; Sarjana Ilmu Percintaan
Mata Kuliah:

  1. Pengantar Ilmu Cinta
    Tujuan pembelajaran: Mengetahui apa itu cinta, abstrak dan konkrit dari sebuah cinta itu sendiri, jenis-jenis cinta.
    SKS: 2
  2. Komunikasi Cinta
    Tujuan pembelajaran: Mengetahui bagaimana berkomunikasi menggunakan bahasa universal, yaitu cinta. Juga belajar gombal-gembel yang dapat membuat pasangan klemar-klemer.
    SKS: 2
  3. Psikologi Cinta
    Tujuan pembelajaran: Mengetahui dampak-dampak psikologis pasangan yang larut dalam asmara. Mempelajari bagaimana memperbaiki keadaan hati pasangan yang sedang galau maupun gundah gulana.
    SKS: 3
  4. Manajemen Cinta
    Tujuan pembelajaran: Mempelajari supaya dapat menata waktu untuk orang yang tercinta terhadap waktu kita yang padat. Juga handal dalam me-manage hati pasangan.
    SKS: 2
  5. Logika Cinta dan Hasrat
    Tujuan pembelajaran: Mengetahui perbedaan mana yang cinta, mana yang hasrat. Juga mengajarkan selalu menggunakan logika dalam menangani cinta dan hasrat. Love is blind, dude!
    SKS: 3
  6. Marketing Cinta
    Tujuan pembelajaran: Mengetahui pasar cinta apa yang sedang laku di pasaran. Cinta gombal kah, cinta akan uang kah, atau Cinta Fitri yang nyaris abadi. Dengan mempelajari ilmu marketing cinta, dapat dipastikan makin handal dalam mencari pasangan dalam cinta.
    SKS: 2
  7. Statistika Cinta
    Tujuan pembelajaran: Mengetahui rating-rating cinta yang sedang tren, dan menghitung rasio cinta akan lawan jenis.
    SKS: 2
  8. Filsafat Cinta
    Tujuan pembelajaran: Mengetahui asal usul 'apa itu cinta' yang selama ini masih belum terkuak dalam misteri insani.
    SKS: 2
  9. Komersialisasi Cinta
    Tujuan pembelajaran: Mengetahui bagaimana sebuah cinta dapat menjadi benda yang namanya UANG. Bahasa singkatnya, jual cinta demi duit.
    SKS: 3
  10. Cinta Interkultural
    Tujuan pembelajaran: Mengetahui macam-macam cinta melintasi batas negara. Bagaimana mentolerir bahasa-bahasa cinta yang berbeda tetapi sama. *cie ilehhhh*
    SKS: 3
Ahh udah ah gombal-gembelnya! Ntar malah keterusan lagi HAHAHA.

5.6.11

Emotion

Yang paling kutakutkan bukanlah kehilangan orang tua, sahabat, teman, maupun harta. Tetapi kehilangan emosi sendiri, yang menguap entah kemana.

4.6.11

Dua Gelas Iced Caramel Macchiato

Dua gelas Iced Caramel Macchiato kau taruh  di atas meja. Sebetulnya aku tidak tahu harus memesan apa, kopi itu yang kau pilih untukku, entah apa maksudnya. Tidak lupa geretan perak berukiran menara Eiffel dan sekotak rokok Marlboro menemani kita malam itu. Kau menjanjikan malam itu akan membawa buku yang kuminta. Tapi seperti biasa, kau lupa. Pikunmu itu tiada duanya.

Kau mengeluarkan sebuah buku, yang ternyata adalah dirimu sendiri, sambil menyalakan puntung rokok pertama. Konsep buku dapat dibawa ke dunia abstrak maupun konkrit.

Lembar pertama kau buka, aku melihat kau yang sendiri dalam keingintahuan dan penuh kegigihan itu. Dalam gelap kau percaya bahwa hari ini kau akan hidup, biarlah esok menjadi urusan esok.

Lembar kedua kau buka, aku melihat kau yang tertidur beratapkan bintang, kau yang bertaruh atas hidupmu, kau yang tergila-gila akan obat. Kau tidak pernah khawatir akan kemana dan menjadi apa. Karena di tepi sungai kau percaya, semua air akan bermuara ke lautan.

Lembar ketiga kau buka, aku melihat kau yang merintih dalam sakit, kau yang kehilangan satu tulang rusukmu, kau yang menjerit dalam lara. Sambil menangis kau yakin, masalah ada bukan untuk dilewati, melainkan dihadapi.

Lembar keempat kau buka. Kau yang pahit. Kau yang manis. Kau yang meminum Iced Caramel Macchiato, tahu bahwa ada sisi manis disetiap kepahitan. Tidak perlu ada yang disesali, nikmati saja apa yang terjadi.

Puntung rokok ke enam telah kau habiskan. Kau sudah menutup lembaran buku itu. Masih banyak halaman kosong yang belum kau isi. Walaupun begitu Iced Caramel Macchiato yang kau beli sudah habis. Sudah tiada lagi tersisa. Yang terkenang hanyalah rasa pahit dan manis yang dapat kau kecap sesekali.
“Hei, hidup itu udah susah, jangan dibikin susah. Enjoy your life!”

Kau tersenyum sekali lagi, sambil menertawakan hidup yang absurd ini. Bukuku baru sampai lembaran kedua. Segelas kopi Macchiato yang kau beli untukku masih belum habis. Manis. Pahit. Bagaimanapun juga, itulah hidup. Kedua konsep rasa tersebut tak dapat kau pisahkan. Tak perlu mendengar apa kata orang tentang hidupmu. Hidup yang merana, hidup dengan sengsara, hidup penuh duka. Karena pada akhirnya, hanya dirimu sendiri yang tahu hidupmu. Kau sendiri yang menulis ceritamu.
.

Yang kau butuhkan dalam hidup bukanlah orang yang memberimu semuanya tanpa kau minta.
Yang kau butuhkan hanyalah mereka yang mengerti.
Mengapa burung terbang di udara,
mengapa ikan berenang di laut,
dan mengapa dirimu begitumu.
Itu sudah lebih dari cukup.





Second series of TERBANG