16.4.12

Purwaceng

Ada yang tahu Purwaceng? Kalo gak tahu, Purwaceng itu semacem obat kuat ala Jawa. Biasanya dibikin jadi kopi atau minuman jahe, biar makin gres ditambah Pasak Bumi. Nah kan pasti semua pada melenceng pikirannya? Sebenernya Purwaceng sendiri diminum sebagai obat kesehatan, biar stamina tetep okeh dikondisi apapun. Tapi orang cenderung mengartikannya sebagai minuman P.R.I.A.

Desember 2011 kemaren, gue jalan-jalan ke Wonosobo dan Dieng. Disana memang banyak jualan Purwaceng, dari yang mahal sampe tembakan. Sampai di toko oleh-oleh di Wonosobo, gue langsung beli 2 bungkus. Temen-temen gue, terutama yang cewek pada ngomong kayak gini ke gue.

"Ming, itu apaan ming?"
"Purwaceng."
"Hah? Itu apaan?"
"Obat kuat!"

Sontak semua pada langsung heboh, terutama cewek-cewek yang ikut. Apalagi ketika liat salah satu bahannya adalah pasak bumi, gue resmi dicap penjahat kelamin atau penggila seks. Woi gue gak segitunya juga kale! Ketika sampai di Dieng dan gue minum Purwaceng, cewek-cewek langsung ngibrit masuk ke kamar. Cowok-cowoknya pada takut diperkosa karena gak ada tempat pelampiasan. Minum satu pun gak akan bikin gue jadi superhero kaleee!

Hari kedua, ketika kita jalan-jalan di kompleks Candi Arjuna, kita pada singgah makan bakso, dan ada yang jual Purwaceng... Kali ini rombongan cowok-cowok pada nepsongan juga untuk minum Purwaceng, tapi yang cewek pada gak takut mereka minum Purwaceng.

Jadi... hanya gue kah yang dicap penjahat kelamin?

8.4.12

I Trust You

Entah itu kertas, entah itu bola kaca. Kedua benda itu mengingatkan gue akan perumpamaan tentang kepercayaan, dimana ketika kertas telah lecek ia tidak bisa kembali seperti semula maupun bola kaca yang telah pecah tak mungkin kembali. Semua hanya bisa dibetulkan jika mesin waktu Doraemon itu beneran ada. Dan sekarang gue lagi mengalami krisis kepercayaan.

Satu orang yang gue tuakan sempat menjadi tempat gue mengeluarkan uneg-uneg, sampai dia tahu luar dalem gue seperti apa. Dan gue pun tahu beberapa cerita dia yang terkadang eksklusif dicertiakan untuk beberapa kenalan dia aja. Disaat itu, gue merasa spesial. Dimana gue diperlalukan dengan spesial dimana gak semua orang dapet ketika berkenalan dengan dia. Begitu pun juga gue yang memperlakukan dia dengan spesial. Simbiosis mutualisme.

Dan gue inget satu pepatah, entah orang galau mana lagi yang buat. Tapi bener aja pepatah ini.

"Ketika kamu makin dekat dengan seseorang, terkadang ia membangun dinding yang lebih tebal supaya kamu gak bisa mengetahui dia lebih dalam lagi."

Bener aja kejadian. Singat kata, gue akhirnya tahu kadang kalo dia itu entah makin cuek, entah makin menyembunyikan diri, tapi ada aja gue tahu dari info yang dateng sendiri, dari mata kepala sendiri, atau aspek-aspek mistis lainnya. Yang terakhir becanda deh...

Sekarang kepercayaan gue ke dia udah bagaikan kertas lecek maupun bola kaca yang pecah. Tetapi gue masih menganggap dia, orang yang sangat gue hormati dan anggap tinggi. Satu-satunya orang yang mungkin tahu jelek-jelek gue ketimbang bagusnya. Orang yang mungkin gue sediain ruang khusus untuk dia bersemayam. Cuma satu kalimat yang mau gue sampein, gue masih ingin coba untuk percaya sama dia dengan sisa serpihan bola kaca yang masih ada. Maupun menoreh cerita di kertas yang udah enggak layak untuk dipakai.

Kemarin, Pastur gue juga memberi renungan di gereja. Dia cuma meminta kita untuk merenungkan satu kejadian yang ingin kita kenang. Jika itu bahagia, berterima kasihlah. Jika itu menyakitkan, maafkanlah dia. Dan dia berada diantara dua posisi itu. Gue berterima kasih karena dia pernah menjadi teman yang baik. Menjadi orang yang bisa gue kata-katain ketika gue lagi bosen. Menjadi orang yang selalu tahu rahasia gue.

Dan gue ingin memaafkan dia untuk segala hal yang udah terjadi :) Jika gue dikasih satu permintaan, gue cuma ingin balik ke masa lalu dimana gue bisa mempercayai lu 100%, dan gue ingin bercerita banyak hal yang belum sempat gue ceritakan.











and I wish you have a happy life :)