Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan

23.2.12

Genap

Genap adalah pilihan, ganjil adalah kesedihan. Seenggaknya itu adalah peribahasa yang gue buat sendiri (caileh) buat kejadian yang pernah gue atau mungkin kalian pernah alamin. Dimana ketika yang namanya angka genap itu adalah hasil dari kita memilih, dan angka ganjil itu adalah hasil dari kita memilih juga plus embel-embel ampas. Dalam kasus ini, gue kebagian jadi ampasnya. Dan gue baru ngerasain gimana rasanya jadi ampas.

Langsung aja masuk ke bagian cerita, dimana pada saat itu gue berencana untuk liburan yang tadinya berempat jadi bertiga. Tadinya gue kira liburan ini bakal jadi liburan yang cukup fantastis (well yeah, some of times are fantastic, but most of them are shits), tapi malah berakhir dramatis. Sesuatu banget deh.

Singkat kata, gue pergi ke kota yang far-far away from Jakarta bersama salah satu orang yang baru gue kenal gak lama-lama amat. Yaa kurang lebih gue baru ketemu dia tiga kali. Gue sendiri mencoba mengakrabkan diri sama dia dengan ngajak ngobrol, yaa seenggaknya gue berharap pas nanti kita jalan-jalan bertiga, kita bisa ngobrol bareng dan masuk. Ternyata eeeeh ternyata... Gue dikacangin. Gak lama setelah gue ketemu dia, ketika gue ngajak ngobrol lagi dia malah lebih milih main sama BBnya. Meeeen, gue liburan mau ngomong sama orang meen, bukan ngomong sama BB!

Kita fast forward sedikit kayak lagi nonton DVD bajakan, alhasil ketika di dalam mobil, gue cuma bisa cengok, nebeng ketawa, ato nebeng nyeletuk. Dan yang paling parah gue dikatain "emang gue ngomong sama elo? Gue lagi ngobrol sama si X."

Sori ya bukannya gue sok sensitif, tapi bagi gue itu udah gak masuk kategori bercandaan. Ada yang orang yang ketika jalan-jalan cuma mau dicuekkin atau cuma mau ngobrol sama gadget elu sendiri? Ketika gue coba ngobrol sama si X pun, gue dikatain "mau banget siiih deket-deket si X."

Ya iya lah, gue aja ngajak ngobrol elu malah ujung-ujungnya ngobrol sama BB. Gimana gue gak mau deket sama orang lain sampe gue dikatain kayak homo. Sisanya gue cuma ngobrol sama si X lagi ketika si orang-yang-baru-gue-kenal ini udah pules di ranjang. Sukur-sukur kalo dia gak bangun lagi sampe pagi besokannya.

Ya udahlah sekarang gue cukup tahu aja kalau orang kayak gitu does exist on this tiny little earth.


26.1.12

Waria

Kalau ngomongin waria, emang udah bukan berita baru lagi. Tapi bukan berarti ngomongin waria Indonesia itu berarti basi. Tetep aja bikin ilfeel. Gue mulai dari pengalaman gue tadi, ketika gue pulang ngampus sehabis ujian dahulu.

Dari kejauhan, gue liat 2 waria dengan baju loreng-loreng macan, satu lagi gaya perpaduan K-Popers sama dangdut yang amit-amit bikin ilfeel. Dan dandannya pun menor kayak kerak telor. Yang satu bawa macem boombox mini yang gue gak tahu apa nama alat asing itu, setel lagu kenceng-kenceng yang bahkan mereka gak tahu judulnya. Sambil di tengah jalan, mereka ngegodain cowok-cowok, dan keliatan sambil minta duit. Si cowok langsung mukanya ilfeel dan mencoba buat kabur. Untungnya gak digodain lebih lanjut. Dari kejauhan, mereka kayaknya cari mangsa lagi. Dan gue mendengar mereka bilang "Itu yang pake baju oren", which is itu GUE!

Anjir, males banget gak sih kalo lu liat waria di tengah jalan kayak begitu, entah di lampu merah lah, Lawang Garden lah. Beda banget sama waria Thailand yang dominan menjadikan waria sebagai identitas, bukan profesi waria yang nakut-nakutin orang di tengah jalan, yang kalau gak ngasih duit kaca mobilnya dipecahin. Tapi jadi waria yang punya kemampuan khusus yang bisa bikin orang tepuk tangan. Main musik lah, dansa lah, apa lah, asal jangan jadi teror masyarakat.

Kaum waria selalu minta ingin diterima di masyarakat. Tapi kalau mereka begini terus, bagiamana masyarakat mau terima?

16.1.12

Merit

Hidup gue emang gak jauh-jauh sama yang namanya kejadian aneh yang bisa bikin gue hebring tralala sendiri. Well, kali ini hal tersebut nyerempet-nyerempet sama yang namanya MERIT. Kejadiannya berlangsung pada Minggu malam sehabis pulang gereja, dimana gue nganterin temen gue untuk nanyain pembukaan calon baptisan baru. Akhirnya gue ngomong ke cici-cici (belom jadi encim) sekretariat yang biasa ngurus hal tersebut.


"Ci, baptisan baru kapan dibuka lagi ya?"
"Oh nanti kita buka lagi pas bulan Mei. Nanti dateng aja lagi kesini."
"Oh iya makasih ya ci."


Ketika gue dan temen gue balik badan, mau keluar pintu.


"Kalian mau nikah kan y..."

"ENGGAK KOK! ENGGAK!"

Anjirr mamen, gue dikira udah mau merit! Gue masih kuliah kaleee. Yaa gue tahu dengan memakai baju polo dan perut buncit (it's a shape too!) gue terlihat seperti pria mapan (AMIN) yang lagi otewe ke pelaminan. Tapi gak segitunya juga kaleee.

Disatu sisi, gue agak seneng juga sih dikira mau merit. Gue gak menampik impian hampir setiap orang itu adalah merit (bahasa gaulnya: kimpoi), punya anak, cucu, dsb. Walau gue sendiri gak tahu gue akan merit ato enggak, itu gak jadi masalah buat gue. 

(Tapi kalo bisa merit plissss)

Yahh, life does hard, apalagi kalo sendiri ngejalaninnya. Tapi gak berarti dengan hidup sendiri, kalian bakal bener-bener sendiri. Percayalah suatu saat dan suatu hari, pasti ada pasangan hidup (insyaolo) yang bakal nemenin hari-hari kalian, atau mungkin partner yang sejalan sama pikiran kalian :)

25.12.11

Kado Yang Tak Terlihat

Waktu kecil kita merindukan Natal. Dimana kita menanti seorang Santa Klaus datang menaruh kado dibawah pohon natal, bukan di kaos kaki, karena di rumah gue kaos kaki itu untuk dipake, bukan digantung. Dan sampai seiring bertumbuh dewasa, gue masih belum bisa mengkhayati apa arti Natal yang sesungguhnya, begitu juga beberapa teman-teman gue.

Kalo dari pribadi gue sendiri, gue enggak mengerti apa makna dari Natal karena gue bukan dilahirkan dari keluarga yang merayakan Natal. Dan baru 1 tahun kemarin gue resmi menjadi Katolik dan mencoba untuk mengerti arti Natal, itupun masih belum begitu ngerti walau Pasturnya udah ngulang-ngulang ngomong Yesus itu lahir. Dalam konteks selain agama, Natal juga merupakan suatu saat dimana kita berkumpul sekeluarga dan merasakan hangatnya kebersamaan. Sekali lagi, keluarga gue bukan sebuah keluarga yang merayakan adanya kebersamaan tersebut, ditambah gue tidak mempunyai latar belakang pengertian apa itu sebuah keluarga. Ditambah satu saudara yang ngeselin, lengkaplah penderitaan gue.

Sampai tanggal 24 pagi tadi, gue masih belum merasakan "Spirit of Christmas" yang disebut-sebut di status FB sampai BBM. Dengan muka suntuk, gue bersiap-siap buat nemenin temen gue ke Pasar Baru. Walau disana gue cuma nemenin dia nyari barang keperluan dia, entah kenapa gue ngerasa bahagia aja. Secara gak sadar, otak gue langsung melakukan flashback kayak di sinetron atau komik-komik Jepang. Dia yang merupakan sosok yang lebih tua, tapi bisa diajak gaul, tuker pikiran, curhat-curhatan dan sebagainya. Orang ini memang merupakan figur seorang saudara yang gue idam-idamkan, bukan saudara yang otoriter dan blo'on. Gue akhirnya dikasih kesempatan untuk merasakan seperti apa punya saudara yang bener-bener ngedukung gue.

Malamnya, salah satu temen SMA gue ngajak kumpul bareng untuk mengadakan sebuah tradisi yang dinamakan Tutup Buku (baru dinamain tadi lho). Dimana kita ngumpul bareng sambil ngerekap apa yang udah terjadi satu tahun belakangan karena keterbatasan waktu kita untuk bertemu. Semuanya direkap dalam pertemuan singkat yang gak lebih dari 2 jam. Dari siapa demen siapa sampai ada apa dan kenapa. Gue pun akhirnya melanjutkan dengan Misa Malam Natal sendirian. Siapa yang nyangka, akhirnya gue terdampar di gereja enggak sendirian, tapi sekomplotan temen-temen gue untuk merayakan Misa Malam Natal bareng. Disini gue menyadari konteks sebuah kehangatan dan kebersamaan keluarga dalam Natal. Mereka enggak harus blood related, enggak harus merit sama saudara elu dan elu harus manggil dia ipar. Cukup berkumpul bersama, dan ketika kita mau buka hati kita dan ngerangkul satu sama lain, maka suasana Natal akan hadir disana.

Santa Klaus mungkin memang enggak eksis di dunia ini dan cuma merupakan gimmick marketing. Tapi satu yang bisa gue maknai dari Natal, kado pada hari Natal itu memang ada. Kado tersebut bukan barang mahal yang kita nantikan. Kado tersebut merupakan sebuah kado yang tak terlihat, yang telah diberi tanpa kita sadari. Kado yang terbaik, yang tak akan pernah hilang sampai kapanpun juga.

Dan kamu adalah kado terbaik yang pernah hadir.






Thank you, Lord. 
This is the first Christmas that I've ever felt :')


21.12.11

Retoris

Siapa aku?
Siapa kamu?
Untuk apa aku hidup?
Untuk apa aku ada?
Untuk apa aku selalu bertanya?




Sebuah pertanyaan retoris 
yang tidak pernah kita sadari jawabannya
jika kita tidak pernah mencari
dan terus bertanya...

2.12.11

As Time Goes By

Sebelumnya saya mau minta maaf sebesar-besarnya untuk para fans saya yang udah lama nunggu-nunggu postingan saya yang lain. Disamping saya lagi sibuk, saya juga mengalokasikan waktu luang saya untuk guling-guling di ranjang mengisi energi. Ini gak penting sih, tapi seenggaknya kalian tahu alasan saya kenapa gak sempet nongol di blog lagi.

Well, semua hidup manusia siapa yang tahu. Mau direncanain semateng-matengnya Mangga Gedong pun, kalau tadinya kita merencanakan mangga itu dijadikan asinan tetapi malah dimakan sama tante lu, akan beda toh ceritanya? 

Sama dengan kehidupan gue. Seiring dengan berjalannya waktu, gue udah mempersiapkan "Mangga Gedong" alias bekal gue kedepan dalam pekerjaan yang gue impi-impikan, yaitu menjadi seorang copywriter di sebuah agensi periklanan. Gue belajar menulis, meniti kata per kata, tara cara tulisan, dan sebagainya sampe gue gak bisa sebutin satu per satu karena gue lupa. Pada akhirnya gue gak mungkin menulis tanpa gue mempelajari sebuah riset. And so, I did it.

Seorang aktor lama (gak lama-lama amat sih, kira-kira umurnya setara sama Cinta  Fitri 4 season lah) kembali muncul dalam kehidupan gue dan mengarahkan gue untuk tidak menjadi seorang copywriter. He did this unintentionally. Karena dia mempunyai ketertarikan dalam bidang strategi, secara gak langsung gue ketepak untuk mempelajari hal tersebut dari dia. Gue pun tertarik untuk jatuh dalam bidang tersebut, dan mempunyai target kedepannya menjadi seorang brand manager, atau jabatan-jabatan yang be-ti (beda tipis). Walaupun pada kenyataannya gue masih mempelajari hal-hal lain seputar periklanan dan sanak saudara kandung maupun tirinya.

Kita boleh berencana kedepan mau jadi apa. Mau jadi bos, direktur, agen asuransi, fotografer atau yang difoto, jadi penulis blog kayak gu-weh, apapun boleh deh. Untuk semua ilmu yang udah kita pelajari capek-capek, walaupun kedepannya kita gak terjun ke dunia yang kita pelajari dahulunya kita harus percaya bahwa itu semua untuk kebaikan kita. Ilmu tersebut gak bakal sia-sia kok!

Thanks to you, I'm happy with my condition right now :) 


26.10.11

A Letter of Friendship

Dear you,

I just want to tell you that you are one of the best that I eve had and irreplaceable. Not only you, I have many spectacular friends in my life. That means you are my spectacular friend too.

You said you like to have a friend, but you used to live alone and you grant everything by yourself because there is no one there to help you.

You said you like to have a friend, buy friends in the world you used to live are nothing more than a bullshit.

Dear you, as you can see, you start a new life 2 years ago, and we met 1 year ago. I am here not only as your pupil, but also as your friend. Remember the 13th October 2011? We shook our hand and introduced our name.

I think I am not the only friends that you have. There are so many wonderful students who love you. Even though there are bitches too. And they are the best thing you ever had and irreplaceable.

Do not carry your burden alone again. Look at your back, we ready to carry it along together! And God is also there to help you.

Is not life is wonderful as it is? You are my teacher, my brother, and also my FRIEND :) I am proud of you.




Your student and your friend,



Darwin B.S.

2.10.11

Terulang

Di Goa Maria, aku berdoa dan berharap akan kedatangannya pada awal Oktober.
Dan sesosok orang yang mirip dia datang.
Hanya mirip, dan ia berlutut di depan patung Maria.
Ia berdoa.
Telepon selularnya pun berbunyi, ia angkat, ia melangkah pergi.
Dan tak kembali.

Di gedung tempat kita menonton konser, aku menunggu.
Dan dia datang.
Memang dia, dan kita duduk bersebelahan.
Ia memperhatikan konser dengan seksama.

Telepon selularnya pun berbunyi, ia angkat, ia melangkah pergi.
Dan ia tak pernah kembali.

22.9.11

Gantung

gantunggan.tung
[v] sangkut; kait


Definisi kata gantung di atas merupakan definisi gantung dari KBBI. Dan ya, saya sedang berada pada posisi tersebut.

Gantung adalah posisi dimana anda dimasukkan ke dalam suatu ketidakpastian akan sebuah kondisi. Seperti ketika anda mengajak teman anda pergi, tetapi dia malah berkata "lihat dulu ya" atau "will let you know". Tetapi ketika ditanya lagi, BBM sengaja gak di read, di hubungi gak bales, seribu satu cara mereka lakukan untuk mengelak. Pacaran tapi putus gak mau, dilanjutin juga gak jelas kemana.

Gimana sih rasanya kalau kepastian anda digantung di bawah langit dan di atas bumi tanpa tahu harus berjalan kemana? Well, saya rasa semua orang gak suka berada di posisi ini. Mau ya mau, enggak ya bilang enggak. Kata alm. Gusdur, gitu aja kok repot.

13.9.11

Sekaleng Kopi Biru

13 September 2010. Bulan menjadi satu-satunya ornamen yang tertempel di langit ketika malam telah tiba. Tanpa bintang, hanya suara kendaraan yang hilir mudik. Aku melangkah ke sebuah mini market kecil, mengambil sekaleng kenangan yang telah dingin. Sekaleng kopi rasa Moccacino ukuran 200ml berwarna biru, yang aku sendiri tak tahu telah berapa lama tak disentuh.

Kakiku terhenti di depan kasir, sambil merogoh dompet di kantong untuk membayar sekaleng kopi tadi. Dan aku pun melihat sekotak Marlboro hijau tersusun rapih di belakang meja kasir. Hai kamu yang disana, apakah rokok yang kamu biasa hisap masih rokok yang sama atau sudah berubah? Atau mungkin kamu sudah tidak merokok lagi? Nyaris 2 bulan kita tidak bertemu, aku tak tahu bagaimana kabarmu. Ponsel hanya digunakan untuk kabar bohong belaka, aku tahu itu.

Seteguk sudah kopi itu kuminum. Pahit kopi dan rasa cokelat terasa di pangkal lidah. Rasa itu masih sama, hanya saja kali ini kuganti dengan cokelat, bukan susu seperti yang waktu itu kau traktir. Sambil berjalan  kuteguk lagi kopi tersebut. Nyaris 3 bulan dari waktu kita minum kopi bersama. Kopi yang biasa kau minum untuk tetap terbangun. Kopi yang biasa kau minum untuk tetap melihat masa depan. Dan sekarang giliran aku yang meminum kopi tersebut.

Hai kamu yang biasa mengajariku cara untuk hidup, kamu tak perlu repot-repot lagi datang dengan wujud seorang guru. Untuk sekarang, esok, dan seterusnya. Kamu tak perlu khawatir, sekaleng kopi cukup untuk menemaniku pada malam ini. Untuk esok, dan juga seterusnya.

8.8.11

Ckckck

Entah kenapa ketika gue melihat orang mengetik "ckckck", gue merasa kesel sendiri. Seakan meremehkan dan menganggap dia yang paling benar.

6.7.11

Please READ

Kebiasaan orang Indonesia pada dasarnya adalah malas membaca. Entah itu baca koran, surat, maupun pesan yang dikirim. Dan ketika dia salah informasi, yang disalahkan siapa? Sang pengirim. Padahal mereka sendiri yang tidak membaca informasi dengan baik.

Pagi ini saya bener-bener dibikin empet. Iya, empet banget. Lagi agak sedikit teler, buka laptop dan chatting. Tiba-tiba ada pesan masuk ke ponsel saya, menanyakan kapan jadwal latihan diadakan.

Padahal saya sendiri sudah meng-broadcast message kepada semua kontak yang bersangkutan, tapi LAGI-LAGI tiga sampai empat orang menanyakan hal sama beruulaaaaaaang kali. Gila, gimana gak empet sendiri.


*Update: Sekarang malah ada satu orang yang mengalibikan dia tidak membaca pesan karena TADINYA mau bolos latihan. Groarrr

26.6.11

Older self

Just blogwalking to my own blog. I found my stupid self sitting there. Writing the whole LOL story, with his own style.

I really miss myself in younger age.

The way I live.
The way I laugh.
The way I love someone.

5.6.11

Emotion

Yang paling kutakutkan bukanlah kehilangan orang tua, sahabat, teman, maupun harta. Tetapi kehilangan emosi sendiri, yang menguap entah kemana.

4.6.11

Dua Gelas Iced Caramel Macchiato

Dua gelas Iced Caramel Macchiato kau taruh  di atas meja. Sebetulnya aku tidak tahu harus memesan apa, kopi itu yang kau pilih untukku, entah apa maksudnya. Tidak lupa geretan perak berukiran menara Eiffel dan sekotak rokok Marlboro menemani kita malam itu. Kau menjanjikan malam itu akan membawa buku yang kuminta. Tapi seperti biasa, kau lupa. Pikunmu itu tiada duanya.

Kau mengeluarkan sebuah buku, yang ternyata adalah dirimu sendiri, sambil menyalakan puntung rokok pertama. Konsep buku dapat dibawa ke dunia abstrak maupun konkrit.

Lembar pertama kau buka, aku melihat kau yang sendiri dalam keingintahuan dan penuh kegigihan itu. Dalam gelap kau percaya bahwa hari ini kau akan hidup, biarlah esok menjadi urusan esok.

Lembar kedua kau buka, aku melihat kau yang tertidur beratapkan bintang, kau yang bertaruh atas hidupmu, kau yang tergila-gila akan obat. Kau tidak pernah khawatir akan kemana dan menjadi apa. Karena di tepi sungai kau percaya, semua air akan bermuara ke lautan.

Lembar ketiga kau buka, aku melihat kau yang merintih dalam sakit, kau yang kehilangan satu tulang rusukmu, kau yang menjerit dalam lara. Sambil menangis kau yakin, masalah ada bukan untuk dilewati, melainkan dihadapi.

Lembar keempat kau buka. Kau yang pahit. Kau yang manis. Kau yang meminum Iced Caramel Macchiato, tahu bahwa ada sisi manis disetiap kepahitan. Tidak perlu ada yang disesali, nikmati saja apa yang terjadi.

Puntung rokok ke enam telah kau habiskan. Kau sudah menutup lembaran buku itu. Masih banyak halaman kosong yang belum kau isi. Walaupun begitu Iced Caramel Macchiato yang kau beli sudah habis. Sudah tiada lagi tersisa. Yang terkenang hanyalah rasa pahit dan manis yang dapat kau kecap sesekali.
“Hei, hidup itu udah susah, jangan dibikin susah. Enjoy your life!

Kau tersenyum sekali lagi, sambil menertawakan hidup yang absurd ini. Bukuku baru sampai lembaran kedua. Segelas kopi Macchiato yang kau beli untukku masih belum habis. Manis. Pahit. Bagaimanapun juga, itulah hidup. Kedua konsep rasa tersebut tak dapat kau pisahkan. Tak perlu mendengar apa kata orang tentang hidupmu. Hidup yang merana, hidup dengan sengsara, hidup penuh duka. Karena pada akhirnya, hanya dirimu sendiri yang tahu hidupmu. Kau sendiri yang menulis ceritamu.
.

Yang kau butuhkan dalam hidup bukanlah orang yang memberimu semuanya tanpa kau minta.
Yang kau butuhkan hanyalah mereka yang mengerti.
Mengapa burung terbang di udara,
mengapa ikan berenang di laut,
dan mengapa dirimu begitumu.
Itu sudah lebih dari cukup.





Second series of TERBANG

26.5.11

Point of View

When everybody give you a big sorry, I'll give you a big thanks. It wasn't because you expel them. You gave me lesson about life. It's all worth it.

12.5.11

Tangan yang Merenda

Selasa, 10 Mei 2011. Papa teman saya meninggal karena sakit parah. Lebih sedihnya, ia meninggal di hari ulang tahun teman saya yang ketujuh belas. Dan teman saya adalah perempuan. Esok Rabunya menjadi hari yang kelabu di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto. 

Informasi akan meninggalnya Sang Ayah teman saya langsung tersebar luas. Lekas saya memberi tahu guru les saya, dan memutuskan untuk pergi bersama teman saya yang lainnya. Misa untuk mendoakan kepergian Sang Ayah dimulai jam 7 malam. Kami telat, dan datang ketika homili sedang berlangsung. Karena tidak enak hati, kami langsung duduk.

Tidak berapa lama, Pastur membagikan komuni kudus kepada mereka yang mengikuti misa. Karena datang telat, saya memutuskan untuk tidak mengambil komuni kudus. Lantas teman di depan saya langsung beranjak dari tempat duduknya. Spontan saya langsung ikut mengambil komuni kudus. Sembari jalan perlahan, saya mendengar kur yang terdiri dari para orang tua yang duduk di depan sedang bernyanyi.

Apa yang kau alami kini 
mungkin tak dapat engkau mengerti 
cobaan yang engkau alami 
tak melebihi kekuatanmu 

Tuhanku tak akan memberi 
ular beracun pada yang minta roti 
satu hal tanamkan di hati 
indah semua yang Tuhan b'ri 

Tangan Tuhan sedang merenda 
suatu karya yang agung mulia 
Saatnya 'kan tiba nanti 
kau lihat pelangi kasih-Nya 

Lantas hati saya tiba-tiba bergetar. Setetes air mata jatuh dari ekor mata, mendengar betapa benar lirik yang dinyanyikan para anggota kur. Dia takkan pernah memberi kita ular beracun untuk menggigit kita sampai mati, melainkan roti yang membawa kehidupan, roti yang menguatkan iman. 

Dan tangan Tuhan sedang merenda. Entah apa yang Ia renda. Mungkin Ia sedang merenda kita menjadi sweater, untuk menghangatkan mereka yang sedang kedinginan di dalam hidupnya.

Sambil memakan komuni kudus, saya duduk kembali dan merenungi kata-kata yang teruntai.
Tangan Tuhan sedang merenda kalian menjadi lebih indah. Hidup kita hanyalah untaian benang yang terurai. Entah pola apa yang Ia buat, semua pasti indah dan punya cerita sendiri. Ia selalu ingin kita menjadi indah.



Untuk keluarga Tedjadharma, kalian pasti dikuatkan Tuhan. Ia telah memberi roti kehidupan kepada Sang Ayah yang telah berpulang, dan untaian benangnya yang terurai telah selesai direnda.


29.3.11

Yang Terkadang Kita Lupakan

Tidak mudah puas, selalu mencari lebih, mungkin itu beberapa kodrat manusia yang hampir tidak bisa dilanggar. Kita pasti selalu ingin maju terus, untuk mendapatkan yang lebih baik.

Tetapi pernahkah kita tersenyum pada hal-hal sederhana yang terjadi kepada kita? Walau hanya sekedar senyuman selamat pagi, atau doa dari seorang ibu maupun dia yang menyayangimu, bukankah hal tersebut indah?

Terkadang kita harus berhenti berlari, dan tersenyum untuk semua yang telah terjadi. Hidup ini terlalu indah, kawan :)

18.3.11

It takes a LEGEND to make a STAR


Judul di atas saya ambil dari film BURLESQUE. 
It takes a LEGEND to make a STAR
Buat saya, slogan film tersebut benar-benar terjadi dalam kehidupan kita semua. Kita gak mungkin secara langsung menjadi sebuah LEGEND jika tidak ada yang kita kagumi. Gak usah jauh-jauh mengagumi para artis maupun penyanyi. Orang tua kita? Guru? Teman? Mereka bisa jadi salah satu LEGEND. Dan apakah kita sendiri mempunyai rencana untuk menjadi STAR?


Banyak tokoh yang saya kagumi yang akhirnya menjadi STAR pun awalnya juga mempunyai LEGEND yang ia kagumi. Seperti Saint John Bosco, yang mengagumi Saint Francis de Sales. Saya sendiri mempunyai seseorang yang saya kagumi. Dia bukanlah orang yang benar-benar spektakuler. Tapi tindakan, pemikiran, dan prestasi yang ia capai menginspirasi saya selalu.


I have my own LEGEND that inspire me. I'll try my best to be a STAR and LEGEND. 


Are you the LEGEND? Or the newborn STAR? Who knows.





*Kalau berkenan, kalian boleh menceritakan LEGEND kalian masing-masing, bisa via facebook yang tertera pada kanan blog ;)

15.3.11

Semester Dua

Selasa, hari sehabis Senin. Ya iya lah nenek-nenek disko juga tahu abis Senin pasti Selasa. Yang bikin hari ini cukup spesial adalah hari ini saya masuk kuliah lagi loh, baru mulai semester dua. Telat banget ya? Iya telat banget-nget-nget. Dimana yang lain udah hampir UTS ehh saya baru guling-guling ke kampus.

Rasanya gimana ya... temen-temen di kampus emang buanyakkkk yang bikin ngangenin. Mereka itu kayak makanan, kalau ada yang ilang satu atau dua orang serasa kayak makan Indomie gak pake bumbu. Tawar ching! Apalagi liburan ini yang saya sama sekali gak lihat mereka, rasanya kayak gak makan sebulan. Groarrrr.

Gak cukup banyak sih perubahan dari mereka, paling cuma tambah kurus, gemuk, beda gaya rambut, itu-itu aja lah. Yang paling hangat dibicarakan selain kegalauan para murid adalah hasil majoring online Senin kemarin. Kalau saya sih adem ayem aja, berhasil dapet kelas mentari (baca: kelas pagi). Tapi banyak juga yang mengalami majoring berdarah alias rebut-rebutan kelas mentari. Sisanya dapet kelas terik (baca: kelas siang). Untung gak ada yang masuk kelas bulan (baca: kelas malam). Ehh betewe itu istilah kelas mentari dan kawan-kawannya bukan istilah resmi dari kampus loh, itu cuma saya yang buat aja biar terdengar sedikit imut HAHAHAHAHAHA.

Dan yang gak ketinggalan hebohnya, dosen-dosen yang asing di hari pertama perkuliahan. Asing yang saya maksud bukan bule ala Chincha Wowra, tapi emang gak pernah lihat sebelumnya. Salah satunya adalah dosen PR, Ma'am Yunita. Yang bikin saya ngakak hari ini, ketika kita membahas dosen PR sebelumnya. Sebut saja namanya Pak A'an (nama samaran). Ketika mem (biar gampang ngetik Ma'am) bertanya siapa dosen sebelumnya dan kita menjawab Pak A'an bu! Kontan bibir si mem langsung mengkuncup sambil bilang 'ouhhh'. Sepertinya skandal dosen ini yang jarang masuk sudah terdengar sampai ujung ibukota sana. Yang paling parah, dia cuma masuk 2 kali sehabis mid test. Emang gokil disko ini dosen.

Gak ketinggalan hebohnya ketika baca papan pengumuman dan tertempel jadwal mata kuliah. Eh tahunya si ini ngajar lagi, eh si itu ngajar lagi. Saya rasa tahun ajaran ini bakal mengena di hati. Tahun yang baru, dengan kenangan lama dibumbui hal-hal yang baru. Menarik.