Tampilkan postingan dengan label masa depan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masa depan. Tampilkan semua postingan

20.6.10

Undangan Dua Puluh Tiga-an



fitrop
 
Wahai kalian yg msh belasan. Tunggu saatnya umurmu menginjak 23-an. Dpt undangan nikahan dr tmn sepermainan. Rasanya aneh bgt! Sensasional!
 

Sejenak gue berpikir, biasa yang gue dapet dari temen gue palingan undangan Sweet 17th. Yang make undangan loh! Gimana ya nasib temen gue nanti (dan gue) ketika kami menginjak sekitar 25 tahun?


Apakah nanti mereka masih mengingat gue *cie ileh* dan dikasih undangan PERNIKAHAN? 


Apakah mereka akan menikah di Indonesia dengan perempuan?

Ato pernikahan gay yang legal di negara Belanda? Ya kita semua gak tahu, itu adalah misteri masa depan.


Bagaimana nanti kisah anak *kalo punya* kita?


apakah mungkin anak gue nanti akan meng harass anak temen gue, yang notaben kayak bapaknya?

Apakah nanti anak orang lain bakal ngatain nama orang tua layak temen gue semasa SMA?


Ya, itu semua hanya kita ketahui nanti. Ketika kita sudah beranjak dewasa dan memilih pasangan hidup. 


Ketika lahir sebuah titipan Tuhan yang mewarnai hidup kita dan orang lain :)


Sampai jumpa kembali, kawan








10.12.09

Past or Future?

Terkadang gue berpikir.
Kenapa setiap manusia suatu waktu harus menghadapi sebuah kenyataan, dimana ia hanya diberikan salah satu pilihan.
Dimana kita gak bisa menempuh kedua jalan tersebut, dan harus menempuh salah satunya.
Dimana kedua jalan tersebut mungkin akan membawa kita ke jalan yang berbeda, ataupun membawa kita ke jalan yang sama, hanya saja yang satunya dapat membawa kita menuju tujuan akhir kita lebih cepat.

Jalan yang pertama menawarkan untuk membeli sebuah masa depan yang ingin kita tempuh. Walaupun jalan itu mungkin susah, tapi menjanjikan.
Sementara jalan yang kedua menawarkan untuk membeli masa kini untuk dikenang sebagai masa lalu. Jalan ini memang menyenangkan, tapi jalan ini dapat diibaratkan berliku-liku. Sehingga mungkin kita akan menuju jalan pertama, hanya saja lebih lama, ataupun menuju jalan buntu yang akan membuat mimpi kita sirna.

Itulah kondisi yang sedang gue hadapin sekarang.
Gue dilema, mana yang harus gue pilih. Membeli sebuah masa depan atau masa kini untuk dikenang sebagai masa lalu?

Hati gue rada tergerak untuk membeli masa depan, tapi disisi lain masa lalu gak bakal gue bisa lewatin lagi.

"If you were me, which one will you choose?"