Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan

13.1.11

Cicak di Dinding

Gimana yaa, perasaan saya semakin hari semakin galau. Bukan galau gara-gara cinta, lebih tepatnya takut akan kehilangan seseorang dari hari-hari biasanya. Dia adalah sosok yang saya kagumi, bukan karena tebar pesonanya.

Melainkan sosok dirinya yang dewasa, menggunakan logika dan emosinya 50 banding 50. Pemikirannya yang melampau jauh dan tahu kapan harus bertindak. Ditambah ia mempunyai kesabaran ekstra. Jika saya ada di posisi dia, mungkin saya sudah didiagnosis darah tinggi karena kebanyakkan marah.

Di kamus saya, susah sekali mendeskripsikan bagaimana seseorang yang dewasa. Bahkan saya tidak pernah menganggap orang tua saya sebagai contoh yang dewasa. Di dalam hidup saya, baru dua kali saya bertemu orang seperti mereka. Semasa perkuliahan dan SMA.

Kalau diibaratkan, posisi saya itu seperti cicak di dinding yang hanya bisa melihat orang tersebut dari kejauhan. Kalau kata Dewi Lestari, hanya suara dan tapak yang menemanimu. Walau saya bukanlah siapa-siapa yang penting di dalam hidup kalian, biarlah saya menapak dalam jalan kehidupan dan gerak-gerik kalian. Mengagumi sosok dewasa kalian dalam keheningan.

Saya tahu, sebentar lagi kita akan berpisah. Bukan maut yang memisahkan, hanya sekedar waktu dan tempat saja. Tidak tahu berapa kata terima kasih yang harus saya ucapkan kepada kalian, sang dewasa di mata saya.
Saya anggap perpisahan ini adalah yang terbaik buat saya dan kalian.

Mungkin suatu hari saya akan lupa bagaimana mereka tersenyum. Mungkin suatu hari saya akan lupa bagaimana mereka marah. Tetapi satu hal yang akan selalu saya ingat, kalian adalah patokan saya untuk menjadi seseorang yang lebih dewasa. Semoga kita ditakdirkan Tuhan untuk bertemu lagi, masih banyak hal yang saya ingin tanya dan bagikan.

Sebagai cicak, yang mengawasi kalian.

20.8.10

Terjebak


Hari ini gue mengikuti summer workshop di kampus gue tentang autisme, dengan pembicara Ibu Adriana S. Ginanjar. Kesan pertama kali gue ikut workshop, nih orang kok lucu bener, interaktif, dan ditambah mukanya mirip Aming - Extravaganza. Berikut penampakannya.

Oke, back to topic. Pembicaraan hari ini adalah tentang autisme. Autisme sendiri adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. 

Ibu Adriana sendiri mempunyai seorang anak yang menderita autisme dan telah menderita selama 18 tahun. Oh iya, Bu Adriana sendiri adalah dosen Psikologi UI dan pendiri sekolah Madinah, sekolah khusus anak autis (dan yang spesial seperti asperger).

Anak autis sendiri ingin berkomunikasi, ingin menyampaikan banyak hal, tapi pada nyatanya diri mereka sendiri tidak bisa menyampaikannya karena keterbatasan yang mereka miliki. 

Singkat cerita saja, gue mau menceritakan 1 anak autis yang bernama Nuha. Nuha sendiri adalah anak autis yang non-verbal, dalam arti mereka yang non-verbal tidak dapat berbicara dengan lancar, bahkan ada yang tidak bisa berbicara. Tapi mereka mengerti kata-kata. 

Nuha sendiri sampai berumur 13 tahun belum bisa berbicara. Tetapi ketika ia berumur 9 tahun, ia menunjukkan kemampuan menulis diatas rata-rata anak normal. Nuha menulis puisi tentang dirinya. Berikut puisinya

BATAS KESEPIAN


Jejak-Jejak batas kesepian
yang aku rasakan

Entah kapan akan tahan
Dan terampas


Oleh: 
Nuha F. Nafisa

Puisi ini sendiri bercerita tentang keterbatasan dirinya. Dia ingin sekali seperti anak lainnya, bersama di dunia yang sama, bukan dalam kesendirian dan keterbatasannya. Ayah Nuha sendiri adalah seorang wartawan di suatu stasiun televisi bergengsi. Mungkin bakat ini pun menurun dari ayahnya. Ketika ayah Nuha mendengar kabar bahwa Nuha dapat menulis puisi dengan baik, tentu saja ia langsung senang dan tak memaksa Nuha untuk cepat-cepat belajar berbicara lagi.

Suatu hari Nuha diajak ayahnya pergi ke IKJ (Institut Kesenian Jakarta). IKJ sendiri adalah salah satu universitas negri yang bersangkut paut dengan kesenian dan entertainment. Nuha melihat betapa hebatnya mereka, dari pentas-pentas teaternya, kesenian lukisan yang mereka buat, dan hal spektakuler lainnya.

Karena Nuha tidak bisa berbicara, ia diberikan suatu alat berkomunikasi semacam alfalink. Nuha pun menulis kata-kata ini kepada ayahnya.

"Kapan aku bisa sembuh dari autis? Aku ingin sekali seperti mereka."

Mendengar hal itu, gue langsung miris sendiri. Mereka ingin, tapi tak bisa. Mereka adalah anak pintar, tapi terbatas akan kondisi fisik yang dimilikinya. Berbahagialah kalian yang masih mempunyai kondisi sempurna, karena tidak semua orang mendapatkan itu.

20.6.10

Undangan Dua Puluh Tiga-an



fitrop
 
Wahai kalian yg msh belasan. Tunggu saatnya umurmu menginjak 23-an. Dpt undangan nikahan dr tmn sepermainan. Rasanya aneh bgt! Sensasional!
 

Sejenak gue berpikir, biasa yang gue dapet dari temen gue palingan undangan Sweet 17th. Yang make undangan loh! Gimana ya nasib temen gue nanti (dan gue) ketika kami menginjak sekitar 25 tahun?


Apakah nanti mereka masih mengingat gue *cie ileh* dan dikasih undangan PERNIKAHAN? 


Apakah mereka akan menikah di Indonesia dengan perempuan?

Ato pernikahan gay yang legal di negara Belanda? Ya kita semua gak tahu, itu adalah misteri masa depan.


Bagaimana nanti kisah anak *kalo punya* kita?


apakah mungkin anak gue nanti akan meng harass anak temen gue, yang notaben kayak bapaknya?

Apakah nanti anak orang lain bakal ngatain nama orang tua layak temen gue semasa SMA?


Ya, itu semua hanya kita ketahui nanti. Ketika kita sudah beranjak dewasa dan memilih pasangan hidup. 


Ketika lahir sebuah titipan Tuhan yang mewarnai hidup kita dan orang lain :)


Sampai jumpa kembali, kawan








27.4.10

Exist

Writing is the best moment in my life. 
You can write whatever what you want. 
The reason I write every momentum in my life because I'm afraid that 

I'll die without leaving a trace to proof that I've live once in this world 

or having an amnesia and forget every single move that you make.




Now I have a proof


That I've been exist

once


in this world...