Tampilkan postingan dengan label katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label katolik. Tampilkan semua postingan

27.11.10

Stella Maris


Engkaulah sang bintang yang menuntun kami.
Di dalam kegelapan, Kaulah sang penunjuk jalan.
Batasku hanya di kepala air, di bawah kaki langit.
Tetapi cahayaMu menembus dimensi.
Tak melihat ruang, maupun waktu.
Bimbinglah kami dengan selamat sampai tujuan akhir.

Stella Maris adalah gelar kuno bagi Santa Perawan Maria. Dalam bahasa latin, Stella Maris berarti Bintang Samudera. Kalau menurut analisa saya sih *cie ileh analisa bok* Stella Maris diambil dari kata Stellar, yang berarti bintang, dan dari kata Maris, sepertinya sih diambil dari kata Marine yang berarti samudera, atau mungkin dari nama Maria sendiri. 

Sebagai seorang ratu yang bertindak sebagai pembimbing dan pelindung mereka yang bekerja dan berlayar di laut, membuatnya mempunyai julukan Ratu Kami Sang Bintang Samudera, diangkat sebagai pelindung misi-misi Katolik bagi para pelaut, kerasulan di laut, dan membuat banyak gereja-gereja di tepi/dekat pantai yang diberi nama Stella Maris atau Maria Sang Bintang Samudra.

Tidak heran ya kalau gereja di Pluit, dinamakan Stella Maris! Dekat sih dengan lautan. Bunda, Engkau sebagai bintang, bimbinglah jalan kami sampai tujuan dengan selamat. Amin.


3.11.10

Misteri Perjalanan Spiritualitas

Jikalau kalian biasa melihat postingan saya yang berisi hal-hal konyol atau nyeleneh, entah kenapa sekarang saya lagi ingin menulis yang agak rohani. Mungkin dikarenakan saya lahir dalam keluarga yang emang tidak mendidik saya secara agama dan saya sendiri tidak betah dengan tradisi di rumah, sehingga gue lebih memilih mencari mana yang lebih cocok buat gue.

Saya juga merasa ada panggilan ke Katolik sekarang, meskipun saya besar dalam keluarga Buddha, dan menghabiskan dari TK sampai SMA di sekolah Kristen. Alasan saya memilih Katolik sebagai landasan spiritual pun terdiri dari berbagai macam hal, yang rasanya tidak etis disebut disini. Cukup tanya saya saja secara pribadi (via fb/twit/msn), dengan senang saya akan menjawabnya.

Pencarian kebutuhan spiritual bukanlah sesuatu hal yang mudah. Bukan hal yang seperti merengek ke orang tua untuk dibelikan sebuah telepon selular dan 1 minggu kemudian barang di depan mata. Kebutuhan spiritual bukanlah sebuah hal yang dapat muncul sendirinya, muncul karena kerinduan kepada Tuhan. Dan saya sendiri yakin bahwa jalan hidup saya itu sudah digariskan oleh Tuhan.

Dari awal mula saya masuk ke dalam gereja Katolik, hingga saya benar-benar menetap di sini. Kalau ditelusuri, bisa dikatakan ini adalah sebuah kebetulan. Tetapi sekali lagi, saya yakin bahwa hal tersebut sudah digariskan Tuhan.

Berawal dari diperkenalkan oleh seorang wanita yang kebetulan di gereja Katolik di dekat rumah saya juga. Kita sudah berkenalan dari 2 SMP, tapi akhirnya baru bertemu pada saat 1 SMA. Akhirnya saya mengajak salah seoran teman saya ke gereja tersebut. Kebetulan dia memang di gereja yang sama. Minggu berikutnya, entah kenapa saya tertarik untuk melangkah ke gereja tersebut lagi. Kakipun mengajak untuk melangkah sampai ke gereja tersebut. Akhirnya saya mengikut misa saya yang kedua. Masih belum ada panggilan. Tapi ini mungkin cara Tuhan memperkenalkan saya kepada rumah ibadahNya.

Saya pun rehat pergi ke gereja, baik gereja Kristen maupun Katolik. Oh iya, dulu saya paling rajin ke gereja Kristen ketika SD. Tetapi karena malas dan beberapa faktor, saya memutuskan untuk berhenti. Kembali ke cerita, 2 tahun berlalu. Ada sebuah lomba blog yang akhirnya saya sendiri tidak menang, dan akhirnya saya berkenalan dengan salah satu peserta. Tak disangka dia tinggal satu komplek dengan saya, dan dia pun di gereja Katolik yang dulu pernah saya datangi. Lalu salah seorang teman SMP saya pun ingin dibaptis secara Katolik, akhirnya kita mulai aktif ke gereja lagi, yang nantinya teman SMA saya juga ikut. Kami pun akhirnya megnikuti kelas katekumen yang berakhir pada Natal tahun ini. Doakan ya semoga lancar!

Lalu saya bertemu dengan ketua mudika Recis (daerah saya). Saya sendiri bertemu dia karena saya suruh salah satu teman saya yang berasal dari Sanur untuk mengajak makan bersama, yang berakhir dia datang pada saat makanan sudah mau habis. Tadinya saya diajak untuk ikut dance, mengisi acara ulang tahun SDB. Tetapi saya urungkan niat itu mengingat saya tidak begitu lihai dalam hal tersebut, apalagi dalam waktu yang kurun singkat. Akhirnya sekitar satu sampai dua minggu kemudian, saya di SMS oleh ketua Recis untuk ikut dalam drama ulang tahun SDB, tetapi tidak dalam bagian dance. Akhirnya saya menerima tawaran tersebut. Saya pun akhirnya ikut dan mendapat peran sebagai pemuda yang menyolong mangga. Saya pun mulai berkenalan dengan para pemain disana, yang kebetulan sebagian adalah mudika, dan sebagian adalah para frater. Saya cukup akrab dengan 2 frater dan 1 bruder. Sayang sang bruder terkena DBD ketika 1 minggu sebelum pementasan dimulai.

Selang 2 sampai 3 minggu, saya pun diajak untuk membantu pelayanan pada misa minggu sore. Berhubung wilayah ReCis masih kekurangan orang, saya pun ikut berpartisipasi, sekalian ingin mengenal anak-anak paroki lebih jauh. Saya pun ditawarkan untuk mengikuti LDK, untuk mencari keanggotaan mudika dan memperkuat tali persahabatan. Saya pun meng iya kan tawaran tersebut. Akhirnya saya mengorbankan seminar narkoba kampus untuk mengikuti LDK ini. Dan tak disangka, kegiatan tersebut yang saya kira hanya seminar saja, ternyata terdiri dari outbond yang cukup menantang dan melatih kerjasama. Ditambah para anggota lainnya sangat membuka tangannya lebar-lebar. Padahal saya bukan siapa-siapa. Hanya seorang baru yang tidak tahu apa-apa. Jarang sekali saya melihat orang-orang seperti ini. Bahkan di kehidupan sekolah dan perkuliahan saya, sangat jarang! Tetapi saya melihat sangat banyak di tempat ini. Saya merasa nyaman, dan memutuskan untuk berkomitmen mengikuti mudika (atau sekarang lebih dikenal OMK, tetapi saya lebih suka dengan kata mudika).

Ada pun acara gereja lain saya ikuti. Dari yang melibatkan mudika sampai yang tidak. Seperti acara sumpah pemuda, dan misa penyembuhan. Disana, saya makin menyadari keajaiban rencana Tuhan. Dari titik 0, sampai ke ambang yang tidak terbatas. Saya menyadari bahwa Tuhan mengkehendaki saya di sini, menyembahnya dengan cara ini. Saya merasa nyaman didalamNya.

Dan 1 hal di dalam benak saya. Mungkin sehabis lulus saya akan melanjutkan sekolah seminari. Tetapi ini masih hal yang belum pasti. Semoga jika benar, ada panggilan khusus yang membuka jalan saya. Saya pun juga mengagumi beberapa tokoh dan terinspirasi darinya. Mungkin akan saya tulis di postingan berikutnya saja. Semoga saya bisa menulis secepatnya untuk yang berikut.

14.10.10

Ujung Dunia


Hail Mary, full of Grace,
The Lord is with thee;
Blessed art thou among women,
and blessed is the fruit
of thy womb, Jesus.
Holy Mary, Mother of God,
pray for us sinners,
now and at the hour of our death. Amen.

Bulan Oktober, merupakan salah satu bulan suci bagi umat Katolik. Biasanya mereka melakukan doa rosario di dalam lingkungan mereka, dan memanjatkan permohonan kepada Tuhan Yesus. Ini kedua kalinya gue ikut doa rosario. Maklum, anak baru.

Ketika gue dateng, gue menyadari kalo gue adalah remaja seorang diri. Gak seorang diri sih, paling yang seumuran gue cuma berdua ato bertiga dari 20. Sisanya tante-tante dan bapak-bapak. Ketika gue masuk rumah pada hari pertama dan kedua, gue merasa panas. Sang empunya rumah pun bilang "Maaf loh panas, gak ada kipas ato AC disini."

Spontan om Anton, wakil ketua wilayah di tempat gue bilang "Nanti pas berdoa adem deh dijamin, kalo Roh Kudus turun."

Amin om amin, ternyata apa yang dibilang om Anton itu bener, gue sama sekali gak ngerasa panas di tengah ruangan yang kecil dengan kapasitas 16-20 orang di dalamnya. Malah serasa adem kayak pake AC disetel 22 derajat celcius loh. Emang berkat Tuhan itu gak berkesudahan.

Di komunitas tempat kami berdoa rosario, ada 1 om-om yang terasa familiar, padahal gue belom pernah ngeliat loh! Yang familiar itu bukan mukanya, tapi tingkah lakunya. Mirip gue! Sehabis doa rosario, dia make-make kalung rosario kekecilan di kepalanya, serasa penari India terus ketawa-ketawa. Gue sambil mikir, ini orang kok mirip gue ya? Terus om-om singgung dia juga.

"Asal lo tau aja, dia ini mantan frater loh."
"Ia mantan frater, tapi setelah ketemu Tesia imannya gak kuat."
"Imrohnya goyang tuh! Hahaha!"

Si om cuma ketawa-ketawa aja, dan gue emang sempat dan masih berpikir mau jadi pastur. Ternyata dunia itu emang sempit. Gue gak perlu ke ujung dunia buat nyari yang mirip sama gue. Toh di komplek sendiri juga udah ada.