Dengan referensi: Day3. SUATU WAKTU NANTI
dan judul dari kalimat pertama "SUATU WAKTU NANTI".
Entah kenapa tiap kali saya melihat postingan dari teman saya si Lulalen ini membuat hati semakin sendu dan galau rasanya. Terutama bagian tentang cinta-cintaan. Uhui.
Berikut saya kutip beberapa tulisan dari postingan dia di atas.
Apakah kamu tahu, setiap perbincangan kita adalah sulutan terdasyat yang saya alami?
Ketika saya berbicara dengan dia, sang mentari pagi, seperti pengalaman yang tak pernah terlupakan dalam benak pikiran saya. Selalu terngiang setiap kata-kata, dan raut wajahnya yang terkadang serius, terkadang melucu, dan terkadang terdiam seribu bahasa.
Pernah terpikir untuk pergi, mencoba untuk berhenti. Namun pada akhirnya saya selalu kembali ke kamu.
Dia seperti mariyuana. Memang terlarang, tetapi saya sendiri telah jatuh ke dalamnya. Kemanapun jalan yang saya tempuh, engkau bagai mariyuana penghilang duka lara.
Dan kita pun bisa berangkulan, entah rangkulan sesaat sebagai tanda sahabat atau rangkulan yang tak akan lepas lagi. Untuk itu, hanya Dia yang tahu.
Kata orang, jodoh memang tidak ke mana. Semua merupakan kehendakNya. Apapun yang akan diberikan Tuhan, entah kita sebatas sahabat maupun teman biasa, saya yakin itu memang yang terbaik yang telah direncanakanNya. Tetapi manusia memang telah jatuh ke dalam dosa, membuat ego saya tinggi dan menuntut Tuhan untuk lebih dari sekedar teman, tetapi bukan dambaan hati. Hanya sekedar sahabat yang peduli satu sama lainnya.
Kamu, kamu, dan kamu.
Tampilkan postingan dengan label teman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teman. Tampilkan semua postingan
28.11.10
Hanya Sebuah Pelampiasan
Menjadi tempat pembuangan akhir bukanlah hal yang mudah bagi seorang manusia. Apalah tempat pembuangan akhir dimana semua emosi yang tidak jelas dibuang ke kita. Bukanlah suatu hal yang mudah untuk kita tampung. Sama halnya dengan sampah, emosi yang saya kategorikan dalam bentuk seperti sampah ini akan terus mengendap bagaikan sampah yang sulit diurai. Entah itu lima tahun, sepuluh tahun, bahkan sampai ratusan tahun!
Luka batin bukanlah sebuah hal yang dapat dihilangkan begitu saja. Ketika kau telah melukainya, maka kau akan membuat dia mengingat akan luka tersebut, walaupun sakitnya telah hilang. Menjadikan sebuah pelajaran yang akan mengingatkannya betapa sakitnya hal tersebut.
Betapa beratnya mempunyai teman seperti itu, hanya datang ketika ia butuh saja. Ingin saja saya buang jauh-jauh teman seperti itu. Tetapi apa boleh buat, kondisi memaksa. Dia pernah berkata ingin berubah. Nyatanya? Hanya omdo saja, omong doang! Perlukah saya sendiri menjadikan diri sebagai objek penyiksaan bak TKI yang disiksa majikannya? Hei, saya bukan pembantu!
Mudah-mudahan lambat laun saya bisa lepas dari jeratan mau ini.
Luka batin bukanlah sebuah hal yang dapat dihilangkan begitu saja. Ketika kau telah melukainya, maka kau akan membuat dia mengingat akan luka tersebut, walaupun sakitnya telah hilang. Menjadikan sebuah pelajaran yang akan mengingatkannya betapa sakitnya hal tersebut.
Betapa beratnya mempunyai teman seperti itu, hanya datang ketika ia butuh saja. Ingin saja saya buang jauh-jauh teman seperti itu. Tetapi apa boleh buat, kondisi memaksa. Dia pernah berkata ingin berubah. Nyatanya? Hanya omdo saja, omong doang! Perlukah saya sendiri menjadikan diri sebagai objek penyiksaan bak TKI yang disiksa majikannya? Hei, saya bukan pembantu!
Mudah-mudahan lambat laun saya bisa lepas dari jeratan mau ini.
Labels:
musuh,
pelampiasan,
teman
20.11.10
Dilema Black Berry
Sekarang yang namanya Black Berry di Indonesia udah merajalela dimana-mana. Ketika gue naek busway, gue serasa menjadi manusia terakhir di bumi yang gak pake BB. Kiri kanan pake BB. Mau Onyx kek, Gemini kek, gemintang kek, pokoknya BB!
Terkadang gue kesal sama teman gue yang memakai BB. Bukan kesal karena mereka memakai BB. Karena mereka sering kali melupakan bahwa ehhh ada gue kaleee di samping loooooo. Pepatah mengatakan, BB mendekatkan yang jauh tetapi menjauhkan yang dekat. Serasa kalo dia BBMan sama temennya yang di Amerika, temennya jadi di sebelah dia. Dan gue yang di sebelah dia bakal langsung terbang ke Amerika. Wih kalo bisa terbang ke Amerika beneran BBMan dah ama temen lo yang di Amrik sono.
Dan ketika sekarang gue berkenalan dengan orang baru, sekarang bukanlah nomor HP yang ditanya. Tetapi mereka bakal nanya "Ehh pin BB lo dong!"
Gimana kalo gue kenalan sama lo gue tanyain "Eh pin ATM lo dong!"
Minta ya nomor HP kaleeee. Lo kate semua makhluk di dunia make BB apeeeeeeeee. *naik pitam*
Para pembaca yang menggunakan BB, salah satu responnya pasti bakal mengatakan begini.
"Ehh lo sirik gak bisa beli BB? Hahaha."
Komentar diatas pasti bakal terlontar dari mulut para ABG. *yakin seyakin-yakinnya*
Yahh gue gak melarang sih memakai BB, tetapi hormatilah teman-teman yang berada di sebelahmu daripada BB yang di tanganmu.
Terkadang gue kesal sama teman gue yang memakai BB. Bukan kesal karena mereka memakai BB. Karena mereka sering kali melupakan bahwa ehhh ada gue kaleee di samping loooooo. Pepatah mengatakan, BB mendekatkan yang jauh tetapi menjauhkan yang dekat. Serasa kalo dia BBMan sama temennya yang di Amerika, temennya jadi di sebelah dia. Dan gue yang di sebelah dia bakal langsung terbang ke Amerika. Wih kalo bisa terbang ke Amerika beneran BBMan dah ama temen lo yang di Amrik sono.
Dan ketika sekarang gue berkenalan dengan orang baru, sekarang bukanlah nomor HP yang ditanya. Tetapi mereka bakal nanya "Ehh pin BB lo dong!"
Gimana kalo gue kenalan sama lo gue tanyain "Eh pin ATM lo dong!"
Minta ya nomor HP kaleeee. Lo kate semua makhluk di dunia make BB apeeeeeeeee. *naik pitam*
Para pembaca yang menggunakan BB, salah satu responnya pasti bakal mengatakan begini.
"Ehh lo sirik gak bisa beli BB? Hahaha."
Komentar diatas pasti bakal terlontar dari mulut para ABG. *yakin seyakin-yakinnya*
Yahh gue gak melarang sih memakai BB, tetapi hormatilah teman-teman yang berada di sebelahmu daripada BB yang di tanganmu.
Langganan:
Postingan (Atom)