Tampilkan postingan dengan label mudika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mudika. Tampilkan semua postingan

22.4.11

Jalan Salib

Credit to: Ray

"Kami mempunyai hukum bahwa ia harus mati, sebab ia mengaku dirinya sebagai anak Allah!"

Itulah sepenggal kalimat yang saya hafal mati-matian, dengan ekspresi senista mungkin, dan suara serek-serek ala penyanyi rocker yang saya latih selama ini (tepatnya baru 2 minggu terakhir karena pada bilang suara gue terlalu alus #ciee). Akhirnya drama Jalan Salib ini selesai. Setelah  bergulat cukup lama dari Sabtu malam, dimana saya sering bolos gara-gara kerja, dan Minggu siang sampai saya makin menghitam. Paroki Santo Yohanes Bosco menjadi saksi buta dari latihan kami ini.

Ditiup angin malam, dijemur bagai kerupuk. Kedua aktifitas tersebut satu dan tak dapat dipisahkan. Latihan bareng, dari awalnya yang cuma ada anak kecil semua sampai banyak remaja dan dewasa ikut ambil bagian. Dari latihan yang banyak main-main sampai modal serius. Dari cuma tahu orangnya itu, sampai benar-benar kenal.

Saya merasa dari drama Jalan Salib ini dapat banyak hal. Entah itu keakraban, kemampuan, sampai konsumsi yang telah dipersiapkan pihak panitia OMK Servasius yang tentunya membuat saya makin betah aja disini. Terutama kroket, lemper, dan pastelnya.

Sampai hari H, tepatnya hari ini. Jam 4 pagi harus sampai TKP. Akhirnya main-main sama anak kucing dulu sambil menunggu yang lain. Tidak lupa menghabiskan snack dan minum susu coklat. Didandanin sampai semaksimal mungkin, ada yang makin cakep, ada yang makin jelek. Karena semua itu tuntutan peran, dan saya kebagian tambah jelek. Walaupun pada dasarnya udah jelek juga sih.

Kali ini saya jadi Orang Farisi loh, pertama kalinya saya ikutan beginian. Dengan modal teriak, muka garang dan tentunya modal nekat, semua berjalan mulus walau ada sedikit kesalahan. Yahh umat juga pada gak tahu lah hehehe. Malah saking semangatnya saat drama, kumis-kumisan saya ikut kemakan sedikit. Rasanya gatel-gatel gitu. Mau coba? Akting para Frater yang bener-bener menjiwai banget jadi Yudas dan Imam Besar. Dan paling salut sama Herodes aka Hendrik, yang nyaris menjadi Heronce karena dandanan anda kayak lekong Harmoni HAHAHA. Tapi performa dia tetep hebat kok. Galak-galak tapi yaa... dandanannya gitu deh.

Dan terima kasih banget buat panitia OMK Servasius, yang diketuai (kalau gak salah) Harry dan Hendrik (Heronce), bersama rekan-rekan lainnya. Om Lie Ping selaku sutradara (atau produser ya?), dan tante Niar selaku istri dari Om Lie Ping yang terus menemani. Thanks ya guys buat 3 bulan yang mengesankan!

NB: Foto nyusul ya, belum pada di upload hehehe.

31.10.10

Sumpah! Gue Gak Tahu!

"Fel, nanti gue ikutan ya hari Sabtu.""Iye, jangan lupa dateng lu nanti. Jem 3 ye udah sampe di gereja. Entar lo ikutan nyanyi ye. Rayuan Pulau Kelapa doang kok. Bisa kan?"
"Bisa kok tenang aje."

Kurang lebih itu percakapan gue sama ci Feli 1 minggu kemaren. Gue mo coba ikutan misa sumpah pemuda. Kayak apaan sih, penasaran gitu. Gue pun jalan ke gereja, biar berangkat bareng ke Stella Maris Pluit. Dikasih baju gratis juga loh! Biar rame-rame ngeksis disana bohohohoho.


Setelah sampai di Stella Maris, kita ke gedung seberang gereja. Gue mulai curiga, bukannya nanti kita bakal nyanyi buat pelayanan misa sumpah pemuda? Makin gue naik ke atas gedung, gue makin curiga. Terlihat sebuah aula serba guna, ditambah 3 meja dengan aqua gelas diatasnya. Spontan, gue langsung nanya Putri, yang duduk di samping gue.

"Put, nanti lu main angklung ya?"
"Iya, nanti gue main angklung sama nyanyi."
"Ohh, soalnya gue nyanyi doang. Kita disini emangnya ngapain sih?"
"Lomba win."

Anjrit, lomba! Gue baru tahu pada detik itu juga, gue langsung shock 700 volt. Gue sama sekali gak pernah dateng latihan, terus ketika dateng gue disuruh pentas, dan gue gak tahu menahu sama sekali. Bahhhh!
Langsung gue toel ci Feli.

"Fel, kita lomba disini?!"
"Iya dong, lomba nyanyi hahaha."
"Buset, kok lu gak kasih tau gueee?"
"Eits, tapi gue gak nipu kan?"
"Iya sih lu bener juga, gak ngasih tau semua sama nipu itu beda =.="
"Hahaha, biar gak gugup."

Ajubile, malah tambah gugup gue. Setelah diajarin urutan-urutan ritmenya. Gue langsung PD jaya naik ke atas panggung bersama yang lain. Ci Feli pun nyamber lagi.

"Wah, ada sisa angklung nih. Lu mainin gih win."
"Ya udah sini dehhh" *
pasrah tingkat 5*

Untungnya nada yang gue mainin cuma berdendang sekali, itupun hampir sangat diujung lagu. Permainan pun dilakukan. Hasilnya hancur belebur bur bur burrrrrr. Awal-awal kagak kompak, ditambah pada bingung semua, termasuk gue bahahahaa. Tapi ya sudahlah, kita jadi TimHo aje, Tim Hore.

Kelompok kedua pun maju, ya kali ini gak gitu bagus. Sehingga masih bisa berPD jaya. Kelompok ketiga maju, mental kita down langsung. Mereka nyanyiin lagu Rayuan Pulau Kelapa juga dengan versi yang JAUH LEBIH HARMONIS MELOW-MELOW AAAAAAAAAAAAAAA.

Ibarat kata, lagu kita itu Rayuan Pulau Kelapa (kena Tsunami), dan lagu mereka itu Rayuan Pulau Kelapa (Pasca Tsunami). Punya kita huru-hara, punya mereka kelapa banget lagunya, ampe pada melambai-lambai.

Kelompok ke empat maju, dan kali ini kelompok yang sama rusuhnya kayak Paroki Yohanes Bosco. Gak heran, dari Yakobus. Masih tetangga Sunter. Ya jadi sama-sama liar lah hahaha. Tapi mereka K E R E N banget bokzzz, pemain cellonya ampe berdiri di cellonya, yang gue bingung itu begimana caranya. Gara-gara Paroki Salib Suci belom dateng, akhirnya kita memutuskan untuk duet Bosco - Yakobus apa adanya, adanya apa, jadilah begitu! Sebagai Tim Hore, kita mah seneng-seneng aje hahahaha. Secara spontan, para musisi Yakobus termasuk si Celloist yang manjat Cellonya minta duet sama Paroki kite. Buset coy, main aja masih amburadul! Tapi berkat sang komposer berbakat, permainan menjadi lebih rapih, pokoknya jadi lebih bagus deh! 


Sang MCpun akhirnya menjelaskan kriteria yang dinilai, yaitu kreativitas, semangat, dan seberapa usaha dan niat anda <- yang ini maksudnye apa??? Juri pun dipilih ketika H-7, dan baru tahu kriteria penilaian ketika 5 menit sebelum masuk ke meja juri. Benar-benar random. Yang kelima, Paroki Salib Suci (yang telat datengnya!). Gak nahan bokz suaranya. Kandidat juara emang udah ditasbihkan untuk tampil paling terakhir. Yang tim pelawak ada 2, sisanya patut dipertimbangkan untuk menang.

Ketika acara selesai, ikut misa, dan ini yang paling ditunggu-tunggu. Makan-makan gratis! Alhasil gue mencoba nguliner satu-satu dari makanan yang tersedia. Ada bakmi ayam, bakso, spaghetti, dan sate ayam! Es lilin juga ada loooh *makan lahap*. Gue pun yang paling bersemangat nguliner, terutama makan bakmi sembari ngisengin si ibu tukang bakmi karena itu ibu sangat ajaib, nanti bakal gue ceritakan. 


"Yak para manusia yang sedang berada diluar maupun di dalam dan maupun yang sedang gangguin ibu tukang bakmi, silahkan masuk. Mau dibacakan pemenangnya nihhh." Kata MC tersebut dengan muka bohwat menghadapi para mudika-mudika paroki yang liar ini.


Akhir acara, diadakan voting spontan untuk memilih tempat acara tahun depan, dan akhirnya jatuh ke tangan Santo Yakobus! Benar-benar voting yang random dalam 1 menit :|


Dan gak disangka, kita dapet juara 1 buat menghias arca Bunda Maria yang anggota tambahannya itu spontan (ya iya, anak fashion sama dkv gitu loh! Sama anak pariwisata satu! *gak nyambung*), dan dapet juara 3 buat lomba padus. Mungkin kita menang di kategori seberapa usaha dan minat anda dalam bermain! Bwahahhaha! Tapi seneng juga lah bisa pulang tanpa tangan hampa (dan perut berisi tentunya).